Senin, 30 Mei 2011

Orang Pertama Yang Mengalami Serangan Jantung Koroner

Amsterdam - An Egyptian princess who lived 3,500 years ago this was the first person known to have coronary heart disease. Like what?

Putri Mesir Ini Bukti Serangan Jantung Pertama


Coronary vessels princess Ahmose-mummy-Amon Meryet Egyptian who lived 1550-1580 BCE (BCE), the whole body visualized using computed tomography scan. The scan showed, this daughter died at the age of 40 years.
In coronary artery daughters, two of the three of them have atherosclerosis. Chief Investigator Dr Gregory S Thomas of the University of California said, "It should be this princess received bypass surgery."
At first researchers thought that atherosclerosis could only be found in modern life but it is certainly atherosclerosis also appeared 3,500 years ago. According to Thomas, diet may be a factor.
"A diet is not a general's daughter in Egypt. As part of the royal family, she would eat fancy food (meat and the like), and foods that contain lots of salt that can cause this attack, "he concluded.

These findings will be presented at a medical conference in Amsterdam. 



Amsterdam – Seorang putri Mesir yang hidup 3.500 tahun silam ini merupakan orang pertama yang diketahui mengalami serangan jantung koroner. Seperti apa?

 Putri Mesir Ini Bukti Serangan Jantung Pertama
Pembuluh koroner mumi putri Ahmose-Meryet-Amon Mesir yang hidup 1550-1580 Sebelum Masehi (SM) ini, seluruh tubuhnya divisualisasikan menggunakan pindai tomografi komputer. Hasil pindai menunjukkan, putri ini meninggal dunia saat berusia 40 tahun.
Pada pembuluh koroner putri ini, dua dari tiga di antaranya memiliki atherosclerosis. Kepala Penyelidik Dr Gregory S Thomas dari University of California mengatakan, "Seharusnya putri ini menerima bedah bypass."
Awalnya peneliti mengira atherosclerosis hanya bisa ditemui di kehidupan modern namun jelas atherosclerosis juga muncul 3.500 tahun silam. Menurut Thomas, pola makan mungkin menjadi faktornya.
“Pola makan putri ini tak umum di Mesir. Sebagai bagian keluarga kerajaan, ia pasti makan makanan mewah (daging dan sejenisnya), dan makanan yang mengandung banyak garam yang bisa menimbulkan serangan ini," tutupnya.


Temuan ini akan dipresentasikan di konferensi medis di Amsterdam.

Sabtu, 28 Mei 2011

Negeri 5 Menara (Country 5 Tower)


 Country 5 Tower
This novel tells about the life of six students from 6 different areas studying in Pondok Madani (PM) Roxburgh East Java away from home and managed to realize the dream of reaching the windows of the world. They are:

   
1. Alif Fikri Chaniago of Maninjau
   
2. King Lopez from Medan
   
3. Said Jufri from Surabaya
   
4. Dulmajid of Sumenep
   
5. Atang from Bandung
   
6. Baso Salahuddin of Gowa
Their school, learning and boarding from grade 1 to grade 6. Day by day they grow closer and have the same craze that is sitting under the tower lodge society. From the same indulgence they refer to themselves as Sahibul tower.

 

 
Alif was born on the edge of Lake Maninjau and never touched the ground outside the realm of Minangkabau. Childhood is a windfall hunt in the jungle of Bukit Barisan, playing ball in the muddy fields and take a bath in blue water of Lake Maninjau. Suddenly he had to take a bus three days and three nights across the back of Sumatra and Java into a remote village in East Java. His mother wanted him to become Buya Hamka though Alif want to Habibie. With a half-hearted mother she followed orders: learning in the lodge.
On the first day of class at Pondok Madani (PM), Alif fascinated with "spells" magic man wa jadda Jada. Who would seriously successful. He was astonished to hear Arabic football commentator, delirious child in English, and impressed to see the hut every morning like a float in the air.
Jewer punishment, united by a chain, Alif close friends with the King of Medan, Said from Surabaya, Dulmajid from Sumenep, Atang from Bandung and Baso of Gowa. Beneath the towering minarets, they waited, staring at the clouds violet Maghrib marched back to horizon. In the eyes their young, the clouds were transformed into a dream state and their respective continents. Where dreams take them? They do not know. All they know is: Do not ever underestimate the dream, even as high as anything. God really is Hearer.
How did they travel to the ends of this world begin? Who's number one horror they? What thrilling experience in the middle of the night next to the river where the genie exhaust the child? How do until someone whispering into a mysterious spy? Who was Princess of Madani who they're after-catch? Why should they be bald flashing? How to Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibn Rushd, even Maradona to eventually interfere? Follow the journey of life is directly inspired from the eyes of the perpetrators. Five State Tower is the first book of a trilogy.

Size of book:
Dimensions: 13.5 x 20 cm Thickness: 432 pages Cover: Soft Cover ISBN: 978-979-22-4861-6 Category: Fiction and Literature / Novel / Original Novel
About the Author: A. Fuadi A. Fuadi born in Bayur, Lake Maninjau in 1972, not far from the village Buya Hamka. Fuadi migrated to Java, to obey his mother's request to enter religious schools. At Pondok Modern Gontor he met with scholars and religious teachers who teach science sincerity blessed life and afterlife science. Gontor also opened his heart to a simple but powerful formula, "man jadda wajada", who meant it will be successful.
Graduating class of International Relations, University of Padjadjaran, he became a journalist Tempo. His first journalism class lived in the duties of reporting under the guidance of senior journalists Tempo. In 1998, he received a Fulbright scholarship to lecture S2 at the School of Media and Public Affairs, George Washington University. Traveled to Washington DC with Yayi, wife --- who is also a Tempo journalist-was his childhood dream come true. While in college, they became correspondents and reporters TEMPO VOA. Historic news events of September 11 as they both reported directly from the Pentagon, the White House and Capitol Hill.
In 2004, another world opens the window again when he got the Chevening scholarship to study at Royal Holloway, University of London to the field of documentary film. Now, this photography enthusiasts became director of communications in a conservation NGOs: The Nature Conservancy.
Other figures

    
* Amak:

    
* Father / Fikri Syafnir / Katik Parpatiah Nan Mudo:

    
* Pak Sikumbang:

    
* Pak etek Muncak:

    
* Pak etek Gindo Marajo:

    
* Pak Sutan:

    
* Ismail Hamzah:

    
* Burhan:

    
Ustad * Salman:

    
* Kiai Amin Rais:

    
* Kak Iskandar Matrufi:

    
* Rajab Sujai / Tyson:

    
* Ustadz Torik:

    
* Raymond Jeffrey / Randai:

    
* Ustadz Surur:

    
* Ustadz Faris:

    
* Ustad Jamil:

    
* Ustadz Badil:

    
* Ustad Karim:

    
* Kak Jalal:

    
* Amir Thani:

    
* Mr. Jonas:

    
* Kurdish:

    
* Ustad Khalid:

    
* Shaliha:

    
* Sarah:

    
* Mbok Warsi:

    
* Zamzam: 

__________________________________________________________________________

 Negeri 5 Menara
Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur yang jauh dari rumah dan berhasil mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia. Mereka adalah:
  1. Alif Fikri Chaniago dari Maninjau
  2. Raja Lubis dari Medan
  3. Said Jufri dari Surabaya
  4. Dulmajid dari Sumenep
  5. Atang dari Bandung
  6. Baso Salahuddin dari Gowa
Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk dibawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul menara.


Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata
belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.


Ukuran buku:
Dimensi: 13.5 x 20 cm
Tebal: 432 halaman
Cover: Soft Cover
ISBN: 978-979-22-4861-6
Kategori: Fiksi dan Sastra / Novel / Novel Asli

Tentang Pengarang: A. Fuadi
A. Fuadi lahir di Bayur, Danau Maninjau tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat. Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, "man jadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.

Lulus kuliah Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, dia menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya---yang juga wartawan Tempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.

Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.
Tokoh-tokoh Lain
  • Amak :
  • Ayah / Fikri Syafnir / Katik Parpatiah Nan Mudo :
  • Pak Sikumbang :
  • Pak Etek Muncak :
  • Pak Etek Gindo Marajo :
  • Pak Sutan :
  • Ismail Hamzah :
  • Burhan :
  • Ustadz Salman :
  • Kiai Amin Rais :
  • Kak Iskandar Matrufi :
  • Rajab Sujai / Tyson :
  • Ustadz Torik :
  • Raymond Jeffry / Randai :
  • Ustadz Surur :
  • Ustadz Faris :
  • Ustadz Jamil :
  • Ustadz Badil :
  • Ustadz Karim :
  • Kak Jalal :
  • Amir Tsani :
  • Pak Yunus :
  • Kurdi :
  • Ustadz Khalid :
  • Shaliha :
  • Sarah :
  • Mbok Warsi :
  • Zamzam :

Minggu, 22 Mei 2011

Negeri Van Orange

Negeri Van Orange

Category: Books Genre: Literature & Fiction Author: Wahyuningrat et 

Says who study abroad is easy? Introduce latitude, Banjar, Wicak, Daus, and Geri. Five sons of men born in Indonesia, stranded in school in the Netherlands for the S2 title. Starting from lack of sleep due to staying up late for paper, less energy because they must genjot bike 5 km back and forth to campus every day, to less money until forced to seek part-time job, all they ever experienced. In addition to undergoing the story hard to delight the students Overseas in Europe, they also make friends and share survival tips living in the Netherlands. They also briefly wrestled with the question in the minds of students who never attended school in foreign countries: to what return to Indonesia? On the way to find answers to each, destiny demands they have courage to go beyond the barrier, reaching for dreams, and do the most difficult: the courage to love! The novel is written in a style lively, hilarious, at once touching the emotions of readers. We will also be invited to tour started from Brussels to Barcelona, ​​visiting the enchanting places in Europe, and share tips adventurous backpacker style.
Endorsements: "Novels are fun."-Andrea Hirata, the author of Laskar Pelangi tetralogy
"Accuracy and detailed story in it made me miss the Netherlands the same."-Raditya Dika, author of Goat
"Her story is very real, full of surprises, and inspiring. Also worth reading for those who want the streets ala backpacker in Europe. "-Trinity, the blog owner and author of The Naked Traveler
"Guidelines must for those who are aspiring to be able to appreciate the friendship and love ...."-Luigi Pralangga, blogger Indonesia in the UN Peacekeeping Mission

About the Author
Wahyuningrat I'm sure I'm not the first person I sekelurahan the school until the Dutch. However, it could be I was the first person sekelurahan Cottage Coffee Duren Sawit district could enter the palace, shaking hands, while chatting with the Queen of the Netherlands. I and some classmates were selected to attend the invitation of The Fifth Anniversary of the Prince Claus Chair in Development and Equity in Paleis Noordeinde, The Hague. Why was I chosen? This is the wisdom of the often aids to help the International Alumni become a sound system at a conference, also a blessing because it has a thesis supervisor is a kindergarten with Queen of the Netherlands. Living in the country despite the difficult person must be flexible in every way. Various ways can still be done in order to survive. Starting from his own insistent replace a leaking rear tire bike, which was not as easy as imagined. As a result, the cost of service is more expensive because of unloading, when I gave up and took it to mechanic Caucasians. Working as a waiter in a restaurant Indonesia could make me rich quick because of flooded tip, because of excellent service. All guests Caucasian origin soto didongengi Lamongan, why rawon black gravy, and what is salad cingur. Indeed they are amazed. Although the oath, is hard to find an equivalent. Then, the most surprising when it became a poor student in the country people are queuing up strong I can go back and forth seven times to be able to eat french fries dutch typical jumbo that it was celebration time for-for free. After that, I can not eat sparingly two days because of satiety.
Nisa Riyad Late last month, when the world's most destitute. Usually when dry bag so it is less enthusiasm to welcome the weekend. Luckily me and some close friends both had Pathé Unlimited, Pathé Cinema membership card. Pay 17 euros per month subscription, can watch up to long-haired bald. From bald to long and shaggy again not finished-finished watching it, hehehe. Not bad, considering all watching the price 8 euros. So we often declared "Day Watch Up to squint" of each end of the month.'ll Still taste tajir poor, thanks to Pathé card! Abis satisfied watching all day, we still want coffee-coffee, but do not have money. Pas at the time, we just nyadar if it turns out one of the film is again playing center offers a program promos. When watching the film, to a glass of café latte for free! The problem is, the film we've ever seen. What to do? Without thinking, we are busy-busy buying movie ticket promo bishop said, collect a free café latte, then a friend's phone was busy each: "There is interest free movie does not?" Bener aja, not long after came a group of friends who are ready willing to accept the offer "generous" in the form of cinema tickets is "superfluous if not used." Can reward friends make fun, free coffee was accomplished!

Rizki Pandu Permana
Living in the Netherlands, means must be ready with all sorts of things named EXPENSIVE! With limited scholarship money, the desire to make the roads around Europe just to save disiasati. However, I am not the type of person who can save, let alone have to save more money to eat. So, look for additional work is one solution. Some additional work I've ever done is the cleaning service and waiters in restaurants. A lot like grief. Like when we paid 'enough' big. Makes me feel really lucky. Yes, imagine aja, from just work and school lavatories bersihin for two hours a day, I get a salary roughly equal to 4 million dollars a month. So, my lust roads can be taken from money that course. Her grief is when a waiter at a restaurant impromptu night market, I and friends are not paid because the owner just disappeared. What makes us more and mumps are: an Indonesian restaurant owner! Truly the heart is. Hopefully, he opened the door of his heart.
Adept Lenggana
After several weeks of silence in The Hague, I finally managed to get four lucky enough bike wreck that collected in a bin elite apartment in Scheveningen. Once cleaned and sorted, voila! Thus was born a beautiful bike jumble of gray. Fair had a free bike. Brands in the frame Fongers, same bike brand Kakung my late grandmother, a former clerk in Central Java. With accessory lights and a large luggage bag free green tacky inscribed "Konmar", be a loyal friend to accompany the Fongers my study trip. The bike long enough tireless drive me everywhere, including seeking additional euro as a common practice in European university students. Until one night, after visiting a friend who lives near The Hague Centraal Station, in the parking lot as usual I squinted to find a piece of garish green color of the luggage bag Fongers. However, this time looking for invisible. "Loh kok not exist?" But my heart remains calm. "No way I lost my bike," I'm still optimistic. Twenty minutes went by I finally let go, "Ilang the Fongers deh." Although the bike is missing, the liver is actually giggled. If it is brightly lit parking lot just a drunken thief or less sane who would nyolong my bike. What is not, after almost a year being tortured now the bike was dying. Girnya ambrol, ready to hang off the pedal at any time. Similarly, chains, couplings everywhere, ready to drop out at any time. Finally, while I smile chasing the last tram while praying that the thief did not keseruduk tram because of the dying Fongers cranky when dikayuh.

OR
Wahyuningrat received his LLM from the Universiteit Utrecht, Nisa Riyadi or Annie Rijadi received his MA from the Universiteit Leiden, Rizki Pandu Permana received his M.Sc. from Wageningen University, and Adept Adept Widiarsa or Lenggana received his M. Comm from Den Haag Haagse Hoogschool. Today they are struggling with their respective careers. 



__________________________________________________________________________________


Negeri Van Orange
Category:    Books
Genre:     Literature & Fiction
Author:    Wahyuningrat dkk


Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?
Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.
Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagi survival tip hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!
Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussels hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker.

Endorsemen:
“Novel yang menyenangkan.” ―Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi

“Keakuratan dan detail cerita di dalamnya membuat saya jadi kangen sama Belanda.” ―Raditya Dika, penulis Kambing Jantan

“Kisahnya sangat nyata, penuh kejutan, dan inspiratif . Patut dibaca pula bagi yang ingin jalan-jalan ala backpacker di Eropa.” ―Trinity, pemilik blog dan penulis buku The Naked Traveler

“Panduan wajib buat mereka yang bercita-cita tinggi agar mampu menghargai persahabatan dan cinta ….”―Luigi Pralangga, blogger Indonesia di UN Peacekeeping Mission


Tentang Penulis

Wahyuningrat
Gue yakin gue bukan orang pertama sekelurahan gue yang sekolah sampai Belanda. Namun, bisa jadi gue adalah orang pertama sekelurahan Pondok Kopi Kecamatan Duren Sawit yang bisa masuk istana, salaman, sekaligus ngobrol dengan Ratu Belanda. Gue dan beberapa teman sekelas terpilih untuk menghadiri undangan The Fifth Anniversary of the Prince Claus Chair in Development and Equity di Paleis Noordeinde, The Haque. Mengapa gue yang terpilih? Inilah hikmah dari sering bantu-bantu acara International Alumni menjadi tukang sound system di sebuah conference, juga berkah karena punya thesis supervisor yang satu TK dengan Ratu Belanda.
Tinggal di negeri orang meski susah haruslah luwes dalam segala hal. Beragam cara dilakukan agar tetap bisa survive. Mulai dari ngotot mengganti sendiri ban belakang sepeda yang bocor, yang ternyata tidak semudah seperti yang dibayangkan. Akibatnya, ongkos servis lebih mahal karena salah bongkar, saat gue menyerah dan membawanya ke montir bule. Bekerja sebagai pelayan di restoran Indonesia sempat membuat gue kaya mendadak karena kebanjiran tip, karena pelayanan yang prima. Semua tamu bule didongengi asal usul soto lamongan, mengapa rawon kuahnya hitam, dan apa yang dimaksud dengan rujak cingur. Sungguh mereka terkesima. Meski sumpah, susah sekali mencari padanan kata. Kemudian, yang paling mengherankan saat menjadi pelajar miskin di negeri orang adalah gue bisa kuat antri bolak-balik tujuh kali untuk dapat makan kentang goreng khas belanda porsi jumbo yang saat itu sedang perayaan bagi-bagi gratis. Setelah itu, gue bisa hemat tidak makan dua hari karena kekenyangan.

Nisa Riyadi
Akhir bulan, saat paling bokek sedunia. Biasanya kalau kantong kering jadi kurang semangat menyambut weekend. Untungnya saya dan beberapa teman dekat sama-sama punya Pathé Unlimited, kartu anggota Bioskop Pathé. Bayar abonemen 17 euro per bulan, boleh nonton sampai botak gondrong. Dari botak sampai gondrong lagi nggak kelar-kelar nontonnya, hehehe. Lumayan juga, mengingat sekali nonton harganya 8 euro. Makanya kita sering mencanangkan "Hari Nonton Sampai Jereng” tiap akhir bulan. Biar miskin tetap berasa tajir, berkat kartu Pathé!
Puas abis nonton seharian, kita masih pengen ngopi-ngopi, tapi nggak punya duit. Pas di saat itu, kita baru nyadar kalau ternyata salah satu film yang lagi diputar tengah menawarkan program promo. Kalau nonton film itu, dapat segelas café latte gratis! Masalahnya, film itu udah pernah kita tonton. What to do? Tanpa pikir panjang, kita ramai-ramai beli karcis biskop film promo tadi, menagih café latte gratis yang ditawarkan, lalu sibuk telepon teman masing-masing: “Ada yang minat nonton gratis nggak?” Bener aja, nggak lama kemudian datang serombongan teman yang siap sedia menerima tawaran “murah hati” berupa karcis bioskop yang “mubazir kalau nggak dipakai”. Dapat pahala bikin teman senang, ngopi gratis pun kesampaian!


Rizki Pandu Permana

Hidup di Belanda, berarti harus siap dengan segala macam hal yang bernama MAHAL!! Dengan uang beasiswa yang terbatas, keinginan buat jalan-jalan keliling Eropa hanya bisa disiasati dengan mengirit. Namun, saya bukan tipe orang yang bisa mengirit, apalagi harus ngirit makan. Maka, mencari pekerjaan tambahan adalah salah satu solusinya.
Beberapa pekerjaan tambahan yang pernah saya lakukan adalah cleaning service dan pelayan di restoran. Banyak suka dukanya. Suka ketika kita digaji ‘cukup’ besar. Membuat saya merasa beruntung banget. Ya, bayangin aja, dari kerja cuma bersihin wc dan sekolah selama dua jam sehari, saya mendapat gaji yang kurang lebih sama dengan 4 juta rupiah sebulan. Maka, nafsu jalan-jalan saya bisa diambil dari duit itu tentunya. Dukanya adalah ketika menjadi pelayan restoran dadakan di pasar malam, saya dan teman-teman tidak dibayar karena pemiliknya menghilang begitu saja. Yang membuat kami semakin gondok adalah: pemilik restorannya orang Indonesia!! Sungguh tega memang. Semoga beliau dibukakan pintu hatinya.

Adept Lenggana

Setelah beberapa minggu berdiam di Den Haag, akhirnya saya cukup beruntung berhasil mendapatkan empat sepeda rongsokan yang dipungut di tong sampah apartemen elite di Scheveningen. Setelah dibersihkan dan dipilah, voila! Lahirlah sebuah sepeda gado-gado cantik berwarna abu-abu. Lumayan punya sepeda gratisan. Merek di rangkanya Fongers, sama dengan merek sepeda almarhum embah kakung saya yang mantan carik di Jawa Tengah. Dengan aksesori lampu dan tas bagasi besar gratisan berwarna hijau norak bertulis “Konmar”, jadilah si Fongers teman setia menemani perjalanan studi saya. Cukup lama sang sepeda tak kenal lelah mengantar saya ke mana-mana, termasuk mencari tambahan euro seperti yang lazim dilakukan para mahasiswa di Eropa.
Hingga pada suatu malam, seusai mengunjungi seorang teman yang tinggal dekat Centraal Station Den Haag, di tempat parkir seperti biasa saya memicingkan mata mencari secarik warna hijau norak dari tas bagasi si Fongers. Namun, kali ini yang dicari tidak kelihatan. “Loh kok ndak ada?” Namun, hati saya tetap tenang. “Nggak mungkin sepeda saya hilang,” saya masih optimis. Dua puluh menit berlalu akhirnya saya pasrah, “Ilang deh si Fongers”. Meski sepeda hilang, sebenarnya hati ini tertawa geli. Seandainya tempat parkir itu terang benderang cuma maling mabok atau kurang waras saja yang mau nyolong sepeda saya. Gimana tidak, setelah hampir setahun disiksa kini sang sepeda sedang sekarat. Girnya ambrol, pedalnya menggantung siap lepas sewaktu-waktu. Begitu pula dengan rantainya, sambungan di mana-mana, siap putus sewaktu-waktu. Akhirnya, sambil senyum-senyum saya mengejar tram terakhir sembari berdoa semoga si maling nggak keseruduk tram gara-gara si Fongers yang sekarat ngambek saat dikayuh.


ATAU

Wahyuningrat mendapatkan gelar LLM dari Universiteit Utrecht, Nisa Riyadi atau Annisa Rijadi mendapatkan gelar M.A. dari Universiteit Leiden, Rizki Pandu Permana mendapatkan gelar M.Sc. dari Wageningen University, dan Adept Widiarsa atau Adept Lenggana mendapatkan gelar M.Comm dari Haagse Hoogschool Den Haag. Saat ini mereka berkutat dengan karier masing-masing.